LIKENETIZEN - Pada saat pilkada kota Pekanbaru sekitar lima tahun yang lalu antara Firdaus, MT dan Septina Primawati Rusli, sebagian besar tokoh agama Islam; ulama, ustadz dan Mubaligh di Kota Pekanbaru sangat gencar “mengkampanyekan” dalam ceramah dan khutbah mereka di rumah-rumah Ibadah dan tempat-tempat lain bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin dengan mengutip ayat al-Quran surat al-Nisa: 34 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” . dan juga hadits Nabi saw:”tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan”. (HR. Bukhari, Turmudzi dan An-Nasa’i). Pernyataan ini secara implisit tidak lain dimaksudkan agar Umat Islam Kota Pekanbaru pada waktu itu jangan memilih Septina Primawati Rusli.Menyikapi gencarnya kampanye agar jangan memilih pemimpin perempuan kala itu, Ustadz H.Tengku Zulkarnain memberikan pembelaan dengan menulis opini di Riau Pos yang pada intinya Islam tidak melarang perempuan untuk menjadi pemimpin.
Kampanye ini cukup efektif dan mengantarkan Firdaus, MT dan pasangannya menjadi walikota Pekanbaru. Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar keluhan warga Muslim kota Pekanbaru yang menyatakan tidak ada perubahan siqinifikan di kota Pekanbaru di bawah kepemimpinan Firdaus dan pasangannya.
Penomena agak serupa terjadi di DKI Jakarta akhir-akhir ini, sebagian besar tokoh agama Islam; ulama, ustadz dan Mubaligh di Jakarta sangat gencar “mengkampanyekan” dalam ceramah dan khutbah mereka di rumah-rumah Ibadah dan tempat-tempat lain agar jangan memilih pemimpin non muslim dengan mengutip ayat al-Quran surat al-Maidah ayat 51: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. Secara implisit tentu saja “kampanye” ini dialamatkan kepada Ahok yang notabene seorang non Muslim.
Apakah kampanye ini akan efektif? apakah 85 persen warga Muslim DKI Jakarta akan mengikuti arahan dari pemimpin agama mereka? hanya waktu yang akan menjawabnya.
Terlepas dari semua itu, penggunaan ayat-ayat al-Quran untuk tujuan-tujuan yang bersifat politis sepertinya agak kurang etis. Saya teringat dulu pada masa Orde Baru; ketika oknum dari partai lain ingin menyerang partai Golkar mengutip ayat al-Quran surat al-Baqarah: 35. “Janganlah kamu dekati pohon ini (dipelintir menjadi pohon beringin), yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. Lalu ustadz dari partai Golkar membalas dengan mengutip ayat al-Quran surat al-Taubah: 105: “Bekerjalah kamu (diterjemahkan berkaryalah kamu), maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu (karyamu) itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Oknum ustadz dari partai PPP ketika ingin menggiring para konstituen agar memilih PPP mengutip ayat al-Quran surat al-Baqarah: 144: “palingkanlah wajahmu ke arah Masjid al-Haram dimana saja kamu berada”. di masjid haram ada Ka’bah sesuai dengan logo PPP karena itu dimana saja kamu berada tataplah logo PPP. Wallah A’lam***
Ditulis Oleh : Amrizal Isa
Tag :
Artikel
0 Komentar untuk "Kepemimpinan Perempuan dan Non Muslim"