Sekelumit Catatan Tentang Pilgubri DKI Jakarta

Kalau tidak ada aral melintang Pilgubri DKI Jakarta akan digelar pada Februari 2017. meskipun pelaksanaannya masih sepuluh bulan lagi tapi situasinya sudah semakin “panas” dan ramai. Sejumlah calon gubernurpun sudah muncul dan tampil di hadapan publik. Mereka menyatakan diri siap akan bertarung melawan Gubernur Incumbent Basuki Cahaya Purnama alias Ahok,. Diantaranya Yusril Ihza Mahendra, H. Lulung, Sandiaga Uno, dan Ahmad Dhani.

Sebenarnya penomena Pilkada di DKI Jakarta ini tidak jauh berbeda dengan yang berlangsung di daerah-daerah lainnya di Indonesia akan tetapi karena ia berlangsung di ibukota negara membuat helat demokrasi ini semakin seru dan ditambah lagi di dalamnya terdapat bumbu-bumbu isu rasial baik menyangkut agama maupun etnis yang membuat situasi semakin memanas.
Kalau diamati perkembangan terakhir sepertinya Pilkada DKI Jakarta kali ini tidak hanya merupakan pertarungan politis saja tapi juga bermuatan pertarungan ideologis dan etnis. 

Sosok Ahok yang notabene non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa menjadi isu politik yang santer dimainkan oleh sebagian umat Islam dan kalangan pribumi yang menjadi lawan politiknya. Lewat berbagai media sosial banyak beredar opini dengan mengutip firman Tuhan yang pada intinya melarang umat Islam untuk memilih pemimpin non muslim alias kafir”. Opini ini tentunya secara tidak langsung dialamatkan kepada Ahok. Demikian pula pernyataan sejumlah tokoh politik nasional di beberapa media yang cenderung menyerang etnis Tionghoa yang sudah berkuasa.

Saya sebenarnya tidak mau terlibat dalam perdebatan mengenai isu sektarian dan isu primordialis terkait Pilgubri DKI Jakarta yang akan datang ini. tapi menurut saya trend kepemimpinan politik hari ini sudah berubah, masyarakat sudah semakin cerdas dalam memilih pemimpin mereka, apalagi masyarakat kota Jakarta yang sudah meodern dan metropolitan. Isu-isu Sektarian dan primordialis dalam batas-batas tertentu sudah tidak efektif lagi dalam mempengaruhi opini publik kecuali untuk masyarakat tradisional.
Karena itu umat Islam jangan terlalu sibuk memainkan isu-isu agama dan etnis dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Umat Islam harus mencari strategi lain yang lebih cerdas dan efektif dalam mewujudkan misinya. Saat ini setuju ataupun tidak setuju, harus diakui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama itu sangat populer di mata masyarakat. Karena kepemimpinannya yang tegas, bersih, jujur, transparan dan profesional. Banyak pakar yang berpendapat elektabilitasnya cukup tinggi. Kalau “umat Islam” ingin memenangkan pertarungan merebut kursi DKI 1, maka mereka harus mencari sosok calon Gubernur DKI yang bisa mengimbangi sosok Ahok. Menurut saya calon gubernur DKI yang “dimunculkan” seperti Yusril Ihza Mahendra, H. Lulung, Sandiaga Uno, dan Ahmad Dhani adalah sosok-sosok yang belum tepat untuk mengimbangi populeritas dan elektabilitas Ahok.

Menurut saya sosok yang bisa mengimbangi ahok itu untuk saat ini adalah Ridwan Kamil Walikota Bandung dan Risma Walikota Surabaya karena kedua tokoh ini sangat populer di mata publik. Tapi jauh-jauh hari Ridwan Kamil sudah menyatakan tidak mau bertarung di DKI, ia lebih memilih fokus melanjutkan tugasnya sebagai walikota Bandung. Kalau Risma Walikota Surabaya yang diusung, akan ada lagi persoalan teologis karena menurut sebagian Umat Islam,”Perempuan tidak boleh jadi pemimpin”. Hak kepemimpinan hanya ada pada kaum laki-laki.

Disinilah letak masalah sebagian besar umat Islam hari ini, mereka hanya pandai “menyerang” dan “menghakimi” dengan mengutip ayat-ayat kitab suci tapi kalah dalam strategi. Dan kalau kita mau jujur, sulit sekali hari ini menemukan sosok pemimpin Muslim yang layak untuk dijual. Karena rata-rata mereka banyak yang bermasalah dalam kepemimpinan mereka. sampai disini kita tidak bisa menyalahkan umat Islam yang lebih melihat aspek kejujuran dan profesionalisme dalam kaitannya dengan kepemimpinan daripada melihat aspek agama. Karena banyak pemimpin Muslim yang tidak mampu memberikan qudwah (keteladanan) yang baik dalam proses kepemimpinannya.

Sampai disini, memainkan isu agama dan etnis dalam menyongsong pilgubri DKI 1 akan sia-sia bila tidak menyiapkan calon pemimpin Muslim (Pribumi) yang pantas dan layak “menandingi” Ahok. Sebab karakter pemilih dalam setiap pilkada itu beragam, tapi sebagian besar mereka (masyarakat) merindukan sosok pemimpin yang baik, jujur dan mampu menyelesaikan persoalan mereka. jikalau masyarakat melihat tidak ada calon yang melebihi ahok, jangan salahkan (hakimi) mereka memilih ahok meskipun mereka orang-orang Islam. Wallah A’lam.

Penulis : Amrizal Isa
Tag : News
0 Komentar untuk "Sekelumit Catatan Tentang Pilgubri DKI Jakarta"

Back To Top